Arsip Kategori: Pinjaman

Sekolah cari pinjaman akibat dana BOS belum cair

Bantuan Operasional Sekolah atau BOS sampai triwulan pertama ini belum cair juga akibatnya ratusan sekolah tingkat SMA/SMK di propinsi Jambi akhirnya mencoba mencari utangan untuk menutupi biaya operasional sekolah mereka.




Disebutkan ada sekitar 450 SMA dan 164 SMK belum mendapatkan dana BOS. Hal ini dikatakan Bappeda Prvinsi Jambi, dan total alokasi dana untuk itu sebesar Rp 169.817.200.000

Untuk tingkat SMA Rp 103.426.400.000 dan untuk SMK sebesar Rp 66.390.800.000 besaran ini dihitung berdasarkan jumlah siswa yang menerima dana BOS.

“Untuk menutupi biaya operasional terpaksa ngutang dulu kepada langgan” kata Khairil yang merupakan kepala SMA 6 kota Jambi. Selain itu juga menggunakan dana pribadi untuk menutupi biaya operasional sehari-hari.

Cara lain mereka juga menggunakan dana OSIS sebedar Rp 20.000 per orang, hal ini katanya sudah merupakan kesepakatan dengan orang tua. Dana ini digunakan untuk kegiatan ekstrakurikuler sampai kepada kegiatan siswa diluar sekolah.

” Kami selalu berdiskusi dengan orang tua jika ada kendala, sehingga menemukan solusi” katanya. baca juga pinjaman pribadi segera

Persoalan dari yang kecil hingga besar selalu diharpkan ada solusi, dan orang tua diharpakan mengerti terhadap persalan yang ada. Persalan tersebut harus jelas dan bisa dipahami.

“Sebagai contoh kertas dan tinta yang harus ada setiap saat” lanjutnya.
Persoalan yang sama juga dihadapi oleh SMA 1 kota Jambi dengan menggunakan dana OSI untuk menutupi dana operasional sehari-hari. Hal ini dikatakan leh kepala SMAN 1 kta Jambi Evariana.

Katanya dana operasinal masih bisa ditanggulangi, walau tidak semua menggunakan dana OSIS atau menggunakan dana pribadi dan juga ngutang sana dan sini.

Masalah seperti ini harus diselesaikan dengan segera karena akan mengganggu stabilitas pendidikan kata Bahren Nurdin yang merupakan akademisi UIN Sulthan Thaha Saifuffin.

“Apalagi kalau sempat kepala sekolah harus berutang dan harus mencari ide lain untuk mengatasi hal tersebut maka sistem pendidikan nya sudah tidak sehat lagi” katanya.




Hal ini berkaitan dengan pejabat yang mana masih dijabat leh pelaksana tugas dan sering kali plt tidak dapat bertugas dengan maksimal. Untuk itu pemerintah Jambi harus segera membenahi sistem di dinas pendidikan karena ini merupakan dmain pemerintah.

Menurut Bahren kepala sekolah harus cerdas untuk menghadapi persalan ini, jangan sampai kepala sekolah terjebak terhadap pungutan liar karena banyaknya permintaan dana kepada orang tua murid untuk membiayai dana operasinal sekolah.

Kalau kita perhatikan dengan tersendatnya dana BOS tersebut seharusnya kita heran, kenapa masalah ini bisa terjadi, dan anehnya juga setiap kepala sekolah untuk SMA dan SMA justru mencba mengatasi dengan dana keuangan berupa pinjaman atau utangan. Loh koq mereka mau? Lalu mengapa mereka tidak mengadu ke dinas pendidikan atau ke menteri? Kalau perlu melakukan aksi demo kalau tidak diperhatikan. Soalnya dana sudah tersedia tapi nyankutnya dimana? kalu perlu diseliki lebih lanjut, bukan mencari utangan!

Pinjaman dengan kartu kredit semakin menarik

Berita ini akan menaikkan pinjaman khususnya dari pemegang kartu kredit berhubungan dengan Bank Indonesia (BI) akan menurunkan bunga kartu kredit sampai 2,25 % perbulan atau 26, 95% setahun terhitung sejak 1 juni 2017 dengan adanya kebijakan tersebut akan meningkatkan penjualan ritel untuk tahun ini. Baca juga pinjaman pribadi segera
Sedangkan selama ini suku bunga kartu kredit rata-rata 2,95 % perbulannya, sehingga penurunan suku bunga kartu kredit ini cukup signifikan jika sudah diterapkan nantinya per 1 juni 2017




Menurut Roy Mande yang merupakan ketua umum Aprindo – Asosiasi Pengusaha Ritel Indonesia penurunan terhadap kartu kredit akan menaikkan minat belanja di masyarakat, imbasnya akan menggairahkan ekonomi nasional karena akan menaikkan konsumsi rumah tangga.

Diperkirakan penjualan ritel akan mengalami kenaikan sebesar 5 – 10 persen akibat dari suku bunga yang turun sehingga menaikkan minat belanja terutama yang terbiasa menggunakan kartu kredit.

Hal ini dengan penurunan untuk suku bunga untuk kartu kredit sehingga akan meningkatkan gairah untuk pertumbuhan industri ritel. Seperti diketahui pertumbuhan industri ritel sendiri sampai anjlok 20 persen di kuartal pertama 2017.

” Kebijakan seperti ini harus tetap dijaga pemerintah, tujuannya agar menaikkan daya beli konsumen, dan jangan hanya bersifat musiman saja, sebagai contoh minat konsumen berbelanja hanya pada musim lebaran saja” demikian kata Roy.

“Pemilik kartu kredit itu termasuk golongan yang cerdas, mereka sangat paham dalam perhitungan berbelanja, terutama keseimbangan dalam pemasukan dan pengeluaran dalam membelanjakan uangnya. Jadi dengan turunnya suku bunga kartu kredit yang khilaf dalam berbelanja hanya 10 persen dan selebihnya 90 persen lebih bijak dalam berbelanja” kata Roy menambahkan.

Sedangkan menurut wakil ketua Aprindo Tatum Rahanta mengatakan penurunan suku bunga untuk kartu kredit sungguh merupakan suatu keniscayaan, sebab masyarakat Indonesia sudah bertahun-tahun sangat terbebani suku bunga yang tinggi sehingga tidak mampu berdaya saing.

Lanjutnya menegaskan” Negeri kita ini sudah terbiasa dengan suku bunga tinggi, dan ini merupakan masalah besar, dan ini harus dihindari, secara logika bagaimana kita dapat bersaing jika beban suku bunganya tinggi”




Dengan kebijakan per 1 Juni nanti maka diharapkan meningkatkan daya beli masyarakat terutama untuk pengguna kartu kredit dan dapat membayar pinjaman mereka dengan lebih ringan melalui transaksi dengan menggunakan kartu kredit.

Untuk belanja gila-gilaan mungkin tidak lah karena yang berbelanja menggunakan kartu kredit di departement store yang harga barangnya mahal dengan menggunakan kartu kredit. Sedangkan di toko kecil akan menggunakan uang tunai tetapi akan menggunakan daya beli mereka

Kemudian dengan suku bunga kartu kredit yang bakalan turun terhitung per 1 juni ini juga akan menghasilkan permintaan kartu kredit juga akan naik, tentu juga akan menggembirakan bagi penerbit kartu kredit seperti bank-bank yang sudah mengeluarkan kartu kredit selama ini.

Rakyat AS catat rekor pinjam uang untuk beli mobil

Ternyata untuk memiliki kendaraan roda empat tetap memiliki prioritas bagi masyarakat AS, hal ini bisa terlihat dengan pembelian transaksi untuk mobil maupun truk di negara paman Sam tersebut




Dan uniknya untuk memiliki kendaraan tersebut mereka ternyata lebih mengutamakan dengan pinjaman daripada membeli dengan uang tabungan mereka. Tercatat ada sekitar 107 juta orang Amerika yang ngutang untuk beli mobil. Data ini dikeluarkan oleh Federal Reserve dari Bank o New York
Jadi kalau dihitung dari populasi rakyat AS berarti ada sekitar 43 persen yang ngutang untuk beli mobil

Sebenarnya Ini menjadi berita menggembirakan bagi penyedia modal untuk memberi pinjamam karena dinilai peminjaman itu telah berkembang pesat sebagai perbandingan ada hanya 80 juta orang saja yang meminjam untuk bei mobil pada 2012, karena pada saat itu orang AS lebih memilih rumah untuk dana pinjaman mereka pada saat itu.

Keadaan sekarang telah berubah, orang lebih suka meminjam untuk beli mobil dari pada punya rumah, dan terbukti peminjaman untuk beli mobil terus tumbuh sampai 2016, walau saat ini kegilaan untuk beli mobil mulai turun. Walau demikian untuk produsen mobil tahun ini amat menggembirakan bagi penjualan mereka.

Tetapi setelah diteliti diprediksi hanya enam juta orang yang mampu melunasi kredit kendaraannya. Jelas membahayakan bagi pemberi kredit untuk memberikan pinjaman membeli mobil atau truk, sehingga keadaaan ini menjadi terbalik seperti yang diharapkan.

Beth Yeager telah melihat sisi buruk dari ledakan pinjaman otomatis ini. Dia membantu menjalankan program Pathway of Hope untuk orang miskin di Salvation Army di Louisville, Kentucky.

Ini kadang menjadi dilema, banyak dijumpai peminjam seperti ibu dan juga anak muda yang harus berakhir di kantor polisi karena tidak dapat membayar cicilan mobil mereka. Jika kehilangan mobil mereka akan tidak bisa bekerja.

Dan mereka sangat benci dengan banyaknya spanduk yang menawarkan mobil ” Beli dan bayar disini, kredit mobil murah” Lalu kejadian yang berulang-ulang terjadi dengan adanya kredit macet.

Lucunya lagi banyak rakyat Amerika yang berpenghasilan rendah dan tidak memahami seluk beluk kredit dan mereka hanya senang kalau ditawari kredit mobil, sehingga dengan mudah menandatangani dokumen, padahal tingkat suku bunga bisa lebih dari 20 %.

Akibatnya sangat berdampak tidak hanya mendapatkan mobil, tapi juga untuk mendapatkan rumah dengan harga terjangkau semakin sulit karena sejarah kredit mereka yang buruk
Menurut data Fed, rumah semakin sulit untuk didapat tetapi sebaliknya mobil semakin mudah sesudah paska krisis pada tahun 2015 dan 2016.




Pada akhirnya kesimpulan adalah apakah akan terus membayar cicilan kredit dari mobil apa lebih mengutamakan untuk makan terus? Hanya yang menjadi persoalan adalah untuk “mobil untuk bekerja”
Itulah sekilas gambaran penjualan mobil dengan pinjaman bagi rakyat AS,
Untuk kita rakyat Indonesia kondisi seperti itu tidak perlu ditiru, minjam uang untuk beli mobil, akhirnya kredit macet, lebih baik naik angkot aja ah…….

Baca juga pinjaman pribadi segera