Demo 313 melibatkan anak kecil

demo anak kami kebal peluru

Demo 313 melibatkan anak kecil dengan tulisan “Kami kebal peluru”

Ini anak tahan peluru….tapi tidak tahan lapar mungkin inilah lelucon yang pas untuk demo yang melibatkan anak kecil kemaren 31-3-1017 demo yang berjilid-jilid untuk memenjarakan Ahok yang dianggap telah menistakan agama.




Kalau dilihat pasal 26 tentang perlindungan anak berbunyi
Orang tua berkewajiban dan bertanggung jawab untuk:

a. mengasuh, memelihara, mendidik, dan melindungi Anak;
b. menumbuhkembangkan Anak sesuai dengan kemampuan, bakat, dan minatnya;
c. mencegah terjadinya perkawinan pada usia Anak; dan
d. memberikan pendidikan karakter dan penanaman nilai budi pekerti pada Anak

Jadi menurut pasal 26 a apakah orang tuanya sudah mengasuh, mendidik dan melindungi anak dengan memberi ilmu kebal peluru? atau siap menjadi umpan peluru? Kemudian poin d memberikan pendidikan karakter dan budi pekerti dengan kebencian?

Anak kecil yang dibawa-bawa itu tidak mengerti akar permasalahan. Mereka hanya diperalat untuk memenuhi hasrat diri orang tuanya.
Mungkin anak-anak itu juga tidak mengenal Ahok tapi sudah ditanamkan kebencian pada usia dini.

Anak-anak ini sebenarnya mempunyai masa depan yang cerah kalau dididik dengan benar, bahkan akan lebih cerah dari masa depan orang tuanya. Tapi sejak kecil sudah ditanamkan kebencian. Orang tua seperti ini sebenarnya menghancurkan karakter dari anak-anak tesebut.

Apalagi demo tersebut pada hari jumat, seharusnya mereka sedang belajar dibangku sekolah untuk menuntut ilmu untuk masa depannya. Demo 313 ini anak-anak sampai Tuhan pun diperalat untuk tujuan politik.

Jadi apa sebenarnya maksud tulisan pada anak kecil itu “kami kebal peluru” ? ya, sudah jelas agar polisi jangan menembaki mereka dengan peluru karet dan gas air mata pada anak kecil.
Untuk itu Polri seharusnya bertindak tegas dan langsung membawa anak kecil tersebut serta meminta pertanggungjawaban orang tuanya yang telah mengeksploitasi anaknya ikut demo dengan tujuan politik.

Related posts:

Comments

comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *