Perkembangan mesin plat lubang

Perkembangan mesin-mesin plat plubang atau perforated pasti terus berkembang sesuai dengan kemajuan teknologi. Maka jika kita lihat pada suatu pameran mesin-mesin (untuk plat lubang) maka kita akan terkagum-kagum dengan perkembangan kemampuan mesin yang baru ada. Mesin-mesin baru akan selalu menampilkan kemampuan dari masing-masing perusahaan pembuat mesin untuk memenangkan persaingan dipasaran yang semakin hari semakin ketat.

Walau demikian jangan heran masih ada mesin-mesin terutama yang manual masih tetap eksis dan produksi secara efektif walau mesin tersebut buatan puluhan tahun yang lalu, malahan mesin tersebut dapat bersaing dengan harga plat lubang dengan mesin yang lain terutama dalam market segmen tertentu. Baca juga Plat lubang jakarta



Umumnya mesin-mesin manual artinya tanpa menggunakan software khusus dan dijalankan oleh motor listrik serta mekanik yang di desain seperti puluhan tahun yang lalu. Pada umumnya mesin-mesin seperti ini tidak presisi dalam hasil kerjanya. Jarak antar lubang  atau “pitch” nya sering bergeser sedikit.
Untuk segment market tertentu tidak mempermasalahkan hal tersebut misalnya lembaran perforasi yang digunakan untuk pengering cengkeh, pengasapan atau bagian eksterior dan walau hasil yang cukup kasar tapi masih cocok untuk pemakaian seperti itu.

Hal yang berbeda jika hasil perforasi membutuhkan presisi yang tinggi seperti untuk dekorasi, rolling door, fased bangunan dll maka dibutuhkan mesin yang lebih canggih dan presisi tinggi. Biasanya mesin seperti ini menggunakan hidrolik atau pneumatic dengan software khusus yang mengaturnya seperti pada mesin-mesin CNC. Apalagi dengan perkembangan teknologi yang sekarang layar monitor nya saja sudah menggunakan layar sentuh.
Sebagai mesin “toolret” dapat menyimpan  54 jenis tool yang berbeda untuk mengerjakan dalam satu lembar plat.

Masalah yang timbul adalah jika mesin itu menggunakan software. Perkembangan software juga sangat cepat sekali. Sebagai contoh ada mesin-mesin perforasi masih menggunakan sistem operasi DOS dan tidak menerima sistem operasi Windows dalam menjalankan sistem nya, tentu akan repot sekali jika membuat copy dari software sementara pabrik pembuat tidak lagi menyediakan layanan operasi seperti itu dan menngharuskan upgrade sistem operasinya.

Mengupgrade suatu sistem operasi jangan hanya membayangkan sistem operasi seperti windows saja yang diganti artinya seluruh program (CNC) juga diipgrade (diganti) agar bisa bekerja pada sistem platform yang terbaru.
Biaya mengupgrade seperti membutuhkan biaya yang cukup mahal, bisa mencapai 40 – 60 % dari biaya untuk pembelian mesin yang baru.
Keuntungan menggunakan mesin manual karena tidak tergantung kepada software, asal saja bagian-bagian mekaniknya masih bagus ya …mesin tetap jalan dan berproduksi.


Untuk mesin-mesin yang menggunakan software dan yang canggih kesulitan lain adalah jika spare part nya belum ada di Indonesia. Maka pemesanan harus ke negara si pembuat mesin. Syukur jika “Aftersales”nya masih ada seperti di Singapura yang bisa dibilang cukup dekat dengan Indonesia . Jika tidak harus ke negara sipembuat seperti Jepang, Eropa, AS atau China tergantung negara mana pembuat mesin tersebut.

Ada juga mesin itu di rakit pada suatu negara tetapi komponen mesin nya dari berbagai negara. Sebagai contoh mesin Taiwan tetapi komponen kontrolnya buatan Amerika atau Eropa. Beruntung jika komponen mesin seperti itu ada distributor penjual komponen tersebut ada di Indonesia.

Jika membeli mesin-mesin baru termasuk mesin plat lubang maka yang perlu diperhatikan adalah apakah aftersales nya ada dinegara kita atau tidak. Jika ada kerusakan dan penggantian komponen mesin kita tidak repot dalam perbaikan. Jika tidak maka kita harus membeli spare jika terjadi kerusakan sebab pembeliannya bisa terjadi beberapa minggu tergantung komponen nya. Bayangkan jika selama itu tidak berproduksi karena tidak ada spare part.

Bagaimanapun juga yang empunya mesin atau pabrik sudah hitung-hitungan dalam ROI (return of investment) dan itu turut menentukan harga jasa plat lubang. Biasanya perhitungan ROI antara 5 – 7 tahun.
Sehingga jangan heran bagi pabrik yang mempunyai mesin yang baru akan berusaha mencapai target dan tentu saja bagi salesnya.

Contoh pabrikan pembuat plat lubang http://www.jasabuat.com/2016/01/membuat-plat-lubang-ekspanda-bordes-dan.html

Related posts:

Comments

comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *